PAK USMAN

Pak Usman dalam kesehariannya, sangat
bersahaja. Walau sesekali suka marah-marah. Wajahnya yang segar, tak menunjukkan bahwa usinya telah begitu lanjut. Tiap pagi dia menyapu
sekaligus mengepel seputar wilayah kantor
dengan tak pernah lupa untuk selalu menjinjing segerobak alat pel dan beberapa botol sabun lantai. Peralatan sederhana tapi penting.

Jika melihat Pak Us (begitu biasa dia dipanggil) akupun teringat
almarhum bapakku. Pak Us sering bercerita “ Dulu waktu aku jemput bapakku
sepulang dari haji, bapakmu berteriak, Us, Bapakmu ada di sana tuh! (sambil P
Us menunjuk ke suatu tempat, menirukan)”.

Pak Us, seorang cleaning servis kantor
kami, pegawai Gol I. Berusia 47 tahun bergaji +300 rubu rupiah. Disamping sebagai
cleaning servis Sekretariat, dia juga sesekali mempunyai usaha sampingan buruh
tani di lingkungannya. Dengan gaji dan
tambahan dari usahanya, P Us kesulitan tuk membiayai sekolah anak-anaknya yang
berjumlah 3 orang, sapalagi membeli
sebuah sepeda motor merk tak terkenal sekalipun.

Entah, apakah kenaikan harga bbm, tarif
dasar listrik, tarif telephone, harga gas dan harga beras mempengaruhi
hidupnya. Yang terlihat dalam kesehariannya hanyalah kedisiplinan dan semangat
kerja tinggi, yang mamaksa untuk selalu bercermin. Malu!Kabur_1

Dibandingkan dengan Pak Us, kehidupan
orang-orang di sekelilingnya menunjukkan kesenjangan. Misalnya dibandingkan saya mungkin. Apalagi dibandingkan dengan
tunjangan presiden dan anggota DPR yang telah naik. Fantastis!

Jadi ingat suatu cerita tentang
kenaikan jabatan. Konon, pada tahun 20xx, Presiden terpilih saking bahagianya,
mengajukan suatu rancangan Perundang-Undangan. Yang intinya adalah, untuk
menghormati dan menghargai para pegawai yang telah bertahun-tahun mengabdi,
maka jabatannya akan dinaikkan. Kalau wakil bupati jadi bupati, wakapolda jadi
Kapolda, Wakil kepala jadi kepala dan begitu seterusnya (kecuali wakil presiden
tentunya). Kalau ada dobel jabatan, tak
mengapa, bisa diatur. Semua pihak pun menyetujuinya. Sampailah kepada pihak
“wakil rakyat”. Mereka keras-keras menentang. Pokoknya menentang. Apapun yang terjadi. Mobil dinas baru tak menggoyahkan pikiran mereka. Vila di puncak, tak
mau juga. Presiden pun bingung. Kenapa? Dikirimlah para utusan untuk menanyakan
secara pribadi kepada para “wakil rakyat”. Dan usut punya selidik, nampaklah secercah titik terang. Ternyata , beliau-beliau ini tak mau, kalau jabatan yang tadinya “ wakil rakyat”, menjadi “rakyat !”. 

Seperti P Usman.

 

Leave a Reply