dahulu kala …

Dieng_senja_2
  Secara geografis
dataran tinggi Dieng terletak di antara 103,30˚ garis BT dan 111,30˚ LS.

Untuk sampai ke Dieng,
para wisatawan biasanya lebih suka melewati Kabupaten Wonosobo (daripada misalnya via Batur, Banjarnegara). Dengan jalan
yang relative lebih nyaman, Wonosobo juga tergolong lebih banyak memberikan
informasi-informasi tentang Dieng.

 

Wonosobo : Sebuah Kabupaten yang menurut
arti etimologisnya berasal dari dua suku kata, yaitu : “ wono” yang artinya
hutan dan “sobo” yang artinya adalah “ berkelana, mendatangi, mengunjungi,
menjelajahi”. Maka, dapat disimpulkan,
Wonosobo adalah hutan, Hutan
(para?) Pengelana. Alias daerahnya “cah dolan”.

 

Perjalan Wonosobo diawali dari tiga
Pendekar “ kangouw” jaman Mataraman yaitu: Kyai Kolodete, Kyai Walik dan Kyai
Karim, yang menginjakkan kaki pertama kalinya  pada kisaran abad 17 M. Dengan segala daya
linuihnya, beliau-beliau ini “mbabad alas” yang konon angker naudzubillasyaiton
itu (keangkeran itu sampai sekarang masih ada, salah satunya yang nulis ini), membentuk
sebuah kawasan pemukiman yang layak huni, tentunya untuk takaran jaman itu.

 

Diyakini juga, Kyai Walik adalah sebagai “perancang
perkotan”-nya, Kyai Karim sebagai peletak dasar-dasar “tata
pemerintahan”-nya. Sedangkan untuk Kyai
Kolodete, sampai sekarang perannya masih dalam penyelidikan. Ada yang meyakini dia
sebagai tokoh sepiritual masyarakat Dieng dan sekitarnya.

 

Namun (lha ini anehnya) berdasarkan fakta
historis mengenai keberadaan candi-candi Dieng, jauh-jauh hari sebelum itu
(abad 5-7 M) sudah menunjukkan adanya kehidupan sebelumnya, dengan pranata
sosial yang telah teratur. Bahkan konon, di daerah itu telah berdiri kerajaan
Mataram Hindu dengan Rakai Sanjaya membangun kerajaannya tepat di tengah kota
Wonosobo yang sekarang menjadi Pasar Wonosobo. Jadi, yang bener yang mana, yang
nulis ini juga masih kurang tau. Butuh semedi dulu kali.*

Leave a Reply