Archive for the ‘lucu-lucuan’ Category
cuma status, ngga pake quo..
Saturday, January 14th, 2006Kasus Mayangsari…
Monday, December 19th, 2005Link: Republika Online : http://www.republika.co.id.
Kasus Foto Mayang Sari, Presiden Tidak Marah
hati-hati ada blogger ditangkepin.
![]()
tapi nulis ngaco jalan terus…. ![]()
… sajaknya …
Tuesday, December 13th, 2005Puisi. Apaan ya? Kayanya sebuah karya sastra, yang terdiri dari kata yang terkadang bersajak, terkadang ngga karuan, alias semau yang mau ngungkapin unek-uneknya, yang karena satu dan lain hal bingung untuk mengungkapkan dalam bentuk lainnya - tindakan mungkin - sehingga terbentuklah apa yang disebut puisi. Untuk lebih jelasnya, buka kamus besar bahasa indonesia saja kali.
Di bawah ini ada beberapa puisi karya orang yang katanya kondang. Hebatnya, ada juga orang-orang kondang yang kebakaran jenggot begitu mendengarnya (mungkin ngga punya jiwa seni beliaunya ini), contohnya yang di bawah ini :
Bolehkan kami
bertanya?
apakah artinya bertugas mulia ketika kami hanya terpinggirkan tanpa
ditanya,
tanpa disapa?
Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam?
Kapan
pengetahuan kami bukan ilmu kedaluwarsa?
Mungkinkah berharap yang
terbaik dalam kondisi yang terburuk?…
Prof. Dr. Winarno Surachmad
seperti saya bilang, ada yang marah-marah ( persisnya tokoh papan atas nomor dua), padahal kan bagus tuh puisi, REALITA!!. Yang lebih simple dari itu, dan ngga kalah menggigit juga ada kok, seperti ini nih :
MERDEKA
"belum"
Ikranegara
Selain puisi yang nylekit , yang alusan dan syahdu juga ada, maklum dalam rangka lebaran (tercampur dengan geguritan dan poem ) :
Tiada embun yang
lebih bening selain beningnya hati
Tulusnya jiwa
membuka pintu maaf di hari yang firtri
M saleh (puisi)
The voice of the
muazzin
to call for the
maghrib prayer
on the last day
of the month of Ramadhan
signalled the
arrival of Idul Fitri, The Day of Victory
To our brother
and sisters who celebrated the day
May Alloh grant
all our wishes, yours and mine
Prof. Retmono (poem)
Aruming
pangruwating jiwo
winahyo ing
lekasing ati suci
sumusul
lumunturing nugraha jatining sedya
Sugeng riyadi
nyuwun gunging pangaksami lair tuwin batos
Djoko M (geguritan)
Ada juga lainnya, yang ndagel tapi ngilu meneriakan kemarahan terhadap sikon, seperti ini nih bunyinya (maaf kepada masyarakat Batak) :
Horas Bah BBM naik
Hidup tambah
Simanungkalit
Pandapatan
Manurung
Hidup bagai
mendaki Tobing
Tak ada lagi
Harahap
Kepala pusing
sampai Sibutarbutar
Rambut rontok
nyaris Poltak
Jumlah rakyat
miskin sudah Pangaribuan
Anak- anak
menangis Marpaung-paung
Otak jadi
Sitompul
Tapi kita diminta
Sitorus
Jangan putus
Harahap
Mesti minta
Parlindungan
Supaya
Bonar-Bonar selamat, Buteeettt…
Wibisono, Ketua Forum Rektor
Indonesia (maaf kepada orang Batak)
Dan liding dongeng, sepertinya dalam isinya yang terkadang nyinyir, puisi juga mampu meruntuhkan tebalnya tembok kekuasaan atau gelapnya liku kehidupan, sama halnya dengan cinta ( sejujurnya, saya juga belum dapat mendefinisikan arti cinta itu sendiri). Seperti kata kahlil gibran dalam puisinya sebagai berikut :
Cinta berbicara
ketika lidah
kehidupan
terdiam kaku
Cinta nampak
sebagai
pilar-pilar
menara cahaya
ketika kegelapan
melingkupi segala
sesuatu
Why Red Indian Names Are Long
Friday, November 25th, 2005
A little Red Indian boy asked his father, the big chief and witch doctor of the tribe, "Papa, why is it that we always have long names,while the white men have shorter names - Bill Tex or Sam, for example?"
His father replied, "Look, son, our names Represent a symbol , a sign, or a poem for our culture –not like the white men, who repeat their names from generation to generation. Also, it is part of our makeup that in spite of everything, we survive.
For example, your sister’s name is Small Romantic Moon Over The Lake, because on the night she was born, there was a beautiful moon reflected in the lake. Then there’s your brother, Big White Horse of the Prairies, because he was born on a day that the big white horse who gallops over the prairies of the world appeared near our camp and is a symbol of our capacity to live and the life force of our people. It’s very simple and easy to understand.
Do you have any other questions, Little Broken Condom Made in China?"
Taken from Setio Pramono email
Applied Statistics Program
Universiteit Hasselt Belgium

